Apakah manusia memang selalu “salah baca”? Sejak masa Bapak Adam dan Ibu Hawa sampai hari ini selalu dan terus saja salah baca? Sehingga Engkau titipkan kunci Iqra` itu melalui kekasih-Mu, kepada kami semua yang tersisa?
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu” [1] (QS Al-Ma’idah: 3). Dia telah menyempurnakan segala ilmu, cara, dan pelaksanaan untuk mewujudkan “ketundukan” pada-Nya. Semua itu dengan cara Islam, suatu program penyelamatan, visi misi, garis haluan dan petunjuk pelaksanaan untuk menyelamatkan sesama manusia dan alam semesta. Untuk “rahmatan lil ‘alamin” sepenuh-penuhnya.
“Dan Ia mengajarkan pada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya” [2] (QS Al-Baqarah: 31). Kepada Adam dipaparkan berbagai fenomena, pola, dan probabilitas yang akan terjadi pada kehidupan manusia. Ternyata kemudian beratus-ratus abad anak cucu Adam mungkin belum pernah sungguh-sungguh lulus ber-Iqra`.
Hingga pada era-era peradaban modern umat manusia mendirikan sekolah-sekolah dan universitas-universitas demi menjawab “sebutkanlah pada-Ku nama benda-benda itu”—kenalilah, kelolalah fenomena-fenomena itu. Dan, sampai hari ini ternyata kita tidak lulus memasuki kategori “jika kamu memang benar orang-orang yang benar”.
Kecurangan, ketidakadilan, kebencian, permusuhan, peperangan dengan korban miliaran nyawa manusia dan pengurasan serta perusakan habis-habisan atas bumi dan alam—menjadi ciri utama hampir semua sejarah umat manusia—membuktikan betapa suci ilmu Allah di balik kalimat-Nya “jika kamu memang benar orang-orang yang benar”.
Padahal Iqra` seakan hanya satu kata sederhana.
Emha Ainun Nadjib,lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 Mei 1953, sebagai anak keempat dari 15 bersaudara. Ia mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor dan meneruskan ke Universitas Gadjah Mada (hanya sebentar). Pada 1970 - 1975 hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Dan pernah menjadi redaktur harian Masa Kini (Yogyakarta), pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Ia mengikuti berbagai festival puisi antara lain di Belanda dan Jerman. Karyanya yang diterbitkan Gramedia adalah Trilogi Doa Mencabut Kutukan.